Thinking Outside The Box - Blue Rupiah

Thinking Outside The Box - Blue Rupiah

Iseng iseng di toko buku saya membaca majalah Tempo 8 Juni 2008 di Kolomnya Mas Bambang Harymurti.
Dari sekedar iseng akhirnya justru serius menyimak tulisannya yang cukup menyengat.Mengapa menyengat karena ada beberapa alasan yang mungkin sangat keluar dari Pakem atau kalau meminjam istilah kerennya adalah Thinking Outside The Box
Usul radikal yang dilontarkan adalah dengan cara membuat nilai tukar rupiah menjadi Rp.6000,- (walaupun ini hanya angan angan beliau saja).
Dan andai saja ( ini masih andai andai) rupiah dengan kondisi tersebut maka justru harga Premium yang tidak bersubsidi akan di angka Rp.5.000,- Pertamax Plus akan di angka Rp.6.000,-.
Yang akibatnya Pupuk akan murah,tidak ada penyelundupan gula dan beras keluar negeri (karena tidak menguntungkan),harga minyak goreng akan turun dsb....anda baca sendiri dech kolomnya.
Lalu bagaimana caranya agar nilai tukar rupiah ini menguat,kata Mas Bambang tidak boleh dengan mendatangkan Prof.Steve Hanke dengan Curency Board Sistemnya.
Tapi dengan cara :
1.Mencabut Subsidi Minyak.
2.Memperkuat Kestabilan Moneter.
3.Memastikan Kestabilan Politik ( mungkin juga Keamanan).

Lha justru inilah persoalannya,kenapa begitu...? Lha hanya naik di kisaran 30% saja (yang notabene masih di subsidi) demo marak dimana mana bagaimana kalau tidak ada subsidi samasekali ...ya sudah pasti menjadi makanan empuk para petualang politik yang sok jadi pahlawan serta para demonstran to.
Solusi yang ditawarkan dengan melepas subsidi yang gila gilaan yang diharapkan nantinya sesuai mekanisme pasar dan berakibat menguatnya rupiah di kisaran Rp.6.000,-memang masuk akal namun yang tidak masuk akal adalah bagaimana kita tega ke Masyarakat banyak kalau tiba tiba Premium mengikuti harga pasar dunia dan di dalam negeri seharga Rp 15,000,-/liter.
Tidakkah ini akan membuat Chaos ...dan terjadi Pe-miskinan mendadak terhadap sekian juta warga kelas menengah yang notabene penggerak Ekonomi.
Lalu bagaimana dengan warga yang sudah miskin...(yang pasti tambah miiiisssskinnn buangetttt).
Kalau Mas Bambang Harymurti mengatakan bahwa pemerintah harus aktif mengkampanyekan kepada masyarakat untuk " Bersakit sakit dulu bersenang senang kemudian" bukankah kita ini memang udah sakit...kalau sakit lagi lha apa enggak Koma..
Namun demikian saya sangat salut dengan ide ini , diatas kertas memang bisa saja ini dilakukan seperti halnya ide untuk membuat Blue Energi dari air.
Biaya yang harus di tebus untuk membuat Blue Rupiah ini sama dengan ide membuat Energi dari Air ,secara teori bisa namun sangat susah untuk di wujudkan karena membutuhkan biaya dan tenaga yang sangat besar.
Seperti halnya eksperimen eksperiman di laboratorium mungkin kita perlu mencobanya sebab bagaimana kita tahu ada biaya yang sangat besar kalau tidak pernah mencobanya.
Nah bagaimana pendapat Anda..?





+ comments + 4 comments

June 8, 2008 at 2:49 AM

saya di malaysia mas..
kemaren resmi naik BBm 40%
tapi rakyatnya anteeeng aja...saya bener2 miris dan ngiluuu rasa dihati...


padahal kenaikan BBm itu jangka panjangnya tujuannya bagus ya mas..
tapi ya itu tadi pahlawan kesian n demonstran itu...

saya telp ibu di Purworejo..katanya dikampung tenang2 ajah...kenaikan BBm memang menyedihkan bagi mereka tapi mereka bertekad untuk menghemat di pos2 yg lain...
misalnya tidur gakusah pake kipas angin lagi..
hiks...bersahaja banget ya mas...

orang kota n mahasiswa sibuk sendiri...

June 9, 2008 at 3:24 AM

sama disini juga pada anteng2 smua warganya.. gak ada tu dema demo disana sini..
padahal disini, bwaaah... kampungnya orang batak2 gitu loh..
kebayang kan gimana bar2nya mereka kalo pada demo... libaaas semuaanya..!!
wekekekeke
:D

June 9, 2008 at 5:27 AM

salam kenal mas...

June 10, 2008 at 8:40 PM

kalo saya ngliat sih semua demo yang ujung-ujungnya berakhir anarkis karena tidak adanya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Mahasiswa merasa harus "kembali" menjadi pahlawan (kesiangan), pemerintah tidak pintar berkomunikasi atas setiap masalah dan solusi yang akan ditempuh, pengamat politik-ekonomi-sosial dkk selalu sok PINTAR mencela tanpa solusi yg akhirnya justru mereka ini menjadi provokator sejati.

padahal sebenernya masyarakat umum biasa-biasa aja menghadapi semua corat marut politik-sosial-ekonomi. entah rakyat mana yang mereka teriakkan dalam demo dan analisa yg sok pintar itu;(

Post a Comment